Hari
Pertamaku di Naungan Pondok Pesantren Balekambang
Oleh : Syihabul Fikri
Ceritaku…
Awalku
bimbang dengan pilihan, namun aku pertimbangkan. Masih saja yang kudapat adalah
keraguan. Semua tentang urusan kelanjutan dari masa sekolah tingkat SLTPku
yaitu di MTs NU Raudlotul Mu’alimin Wedung Demak.
Waktu
memepetku seakan memaksa untuk memutuskan “daftar sekolah manakah aku ?” setiba
lulus dari masa MTs ku. Akupun bertanya-tanya dan kesana kemari untuk menggalih
informasi tentang Pendidikan SLTA yang baik dan terdapat naungan Pondok
Pesantrennya.
Orang-orang
dekat kutanyai tentang bagaimana pendapatnya tentang lembaga pendidikan ini dan
bagaimana pendapatnya tentang lembaga pendidikan itu. Lalu mereka mengulas dan
menyampaikan dengan macam-macam pendapatnya yang pada akhirnya aku daftar di
SMK Roudlotul Mubtadi’in Balekambang.
SMK
Roudlotul Mubtadi’in Balekambang merupakan salah satu SMK yang berada di bawah
naungan Pondok Pesantren. Untuk tempatnya berada di Jepara dan lebih tepatnya
yaitu di Desa Gemiring Lor, Kec. Nalumsari, Kab. Jepara, Jawa Tengah. Pondok
yang di Asuh oleh K.H. MA’MUN ABDULLAH. Pondok itu merupakan pondok tertua di
kota Jepara usianya sudah 1 abad lebih. Meski Pondok Pesantren Roudlotul
Mubtadi’in Balekambang adalah pondok tertua namun saat aku melihatnya Pondok tersebut
terlihat tidak tua karena arsitektur bangunannya. Karena pembangunan yang
sangat cepat dan renovasi yang cukup banyak sehingga Pondok ini tidak begitu
terlihat usia tuanya. Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadi’in Balekambang sendiri
di bangun pada 1884 M.
Awal
masuk pondok rasanya memang sangat sedih karena jauh dari orang tua, jauh dari
keluarga, dan jauh dari saudara serta teman-teman dekat. Dimana aku tak
mengenal siapa yang ada disebelahku, siapa yang berjalan didepanku. Namun semua
itu mengandung banyak makna yaitu tentang kemandirian, cara sosial, cara
berkomunikasi, tentang bagaimana cara kita
mengelola dunia baru, bagaimana cara kita menghadapi orang-orang baru dan
lingkungan baru.
Aku
masih ingat betul saat aku pertama masuk di Pondok Pesantren, Sore aku diantar
oleh keluarga dan saudaraku. Terasa sedih saat ditinggalnya. Perlahan Sinar
mentaripun tenggelam waktu Maghrib pun tiba, semua santri disuruh mengambil air
wudhu dan segera memasuki barisan shof shalat. Akupun masuk barisan shof sholat
paling depan. Lalu adzan berkumandang, terdengar merdu suara adzan dengan
cengkok-cengkok seperti layaknya adzan di kota Makkah. Setelah adzan kamipun membaca do’a setelah adzan.
“Allaahumma
robba haadzihid da’watit taammati wash sholaatil qooimati aati sayyidina
muhammadanil wasiilata wal fadhiilata wasy syarofa wad darajatal ‘aaliyatar
raofii’ata wab’atshu maqoomam mahmuudanil ladzii wa’adtahu, innaka laa
tukhliful mii’aada yaa arhamar roohimiina.”
Yang Artinya “Ya Allah, Tuhan yang mempunyai
seruan yang sempurna, dan sholat yang tetap didirikan, karuniailah nabi
Muhammad tempat yang luhur, kelebihan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi.
Tempatkanlah
dia pada kedudukan yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan.
Sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji. Wahai dzat yang Maha Penyayang.”
Setelah
itu kami dianjurkan untuk sholat sunnah
qobliah sebelum kami sholat maghrib. Sebelum iqomah muadzin menyairkan sholawat
serta pujian untuk menunggu jamaah yang masih antri mengambil air wudhu, dan
yang masih sedang sholat qobliah. Lalu 10-15 menit kemudian iqomah
dikumandangkan.
Sholat
Jamaah dimulai dan diimami oleh Ust. Fikri M. Yusuf, dan disinilah Takbir
Sholat pertamaku di lingkungan baru Pondok Pesantren Balekambang Jepara.
Lantunan Ayat-Ayat Suci yang terdengar lantang dan merdu menghantarkanku untuk
menjadikan sholat lebih Khusyu’ .
Setelah
Sholat terlihat ada Kardus yang diedarkan dan terlihat didalamnya terdapat buku
kecil berwarna hijau itulah yang dinamakan Khizib
atau yang biasa disebut Rotibul
Khadad, tak hanya sholat yang dilaksanakan dengan cara berjamaah, dalam
membaca Rotibul Khadad ini pun dibaca
secara bersama.
Seusai
Pembacaan Rotibul Khadad waktu sangat
mepet dengan masuknya waktunya Sholat Isya’ kamipun disuruh tetap berada dalam
posisi yang sama. Dan dipersilahkan mengambil air wudhu bagi yang wudhunya
sudah batal.
Selanjutnya,
kami Sholat Jama’ah Isya’ yang diimami oleh Ustad Maulana berbeda dengan Ustad
Yusuf bacaan yang dilantunkan oleh Ustad Maulana terdengar lirih dan sangat
menghati-hati dalam membaca surah-surah Al-qur’an. Sholat isya’ pun diakhiri
dengan salam. Namun kami masih berada dibarisan shof sholat untuk membaca
wiridan seusai sholat, dan ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh imam. Sesudah
itu kami dipersilahkan mengambil peralatan makan untuk mengambil jatah makan
malam di kantin.
Santri yang lapar berlari-lari untuk
mendapatkan barisan antri terdepan. Aku yang berjalan santai menuju tempat
makan yang sesampainya disana aku berada di barisan tengah. Budaya antri memang
sudah biasa bagi seorang santri harus sabar mengantri untuk mendapatkan
gilirannya mengambil makan.
Pondok
memang sangat erat dengan budaya Kepungan
yaitu budaya makan menggunakan nampan yang dimakan secara bersama-sama. Bukan
berarti Jijik makan bersama namun justru disitu akan terasa Nikmat yang tiada
tara.
Setelah
Makan Kami diberi Pengarahan tentang aturan-aturan yang ada pada Pondok
Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang. Semua santri harus menaati segala
aturannya. Dan aka nada sanksi atau ta’ziran
apabila terdapat santri yang melanggar aturannya.
Cerita Hari
Pertamaku…



Komentar
Posting Komentar