Orientasi Satu Bulan


Orientasi Satu Bulan
Oleh : Syihabul Fikri

Mengawali masuk Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadi’in Balekambang. Kami disambut dengan berentet-rentet kegiatan. Segala kegiatannya telah dikonsep matang-matang oleh seluruh Panitia PESABAR (Pembinaan Santri Baru). Sungguh terasa berat saat menjalaninya. Disetiap Hari kami dibangunkan di sepertiga malam, lalu kami bangun dan kami mengawali hari dengan Sholat Tahajud, Sholat Khajat, dan bermunajat kepada Allah. Memang hal yang sangat berbeda dengan kehidupan di rumah. Karena kalau di rumah bisa asyik dengan dunia mimpi karena bisa tidur pulas dan tidak ada yang mengganggu dan membangunkan disepertiga malam. Namun lain dengan di Pondok, disaat sunyinya malam dan gelapnya langit, kami dibangunkan. Lalu disela-sela waktu yang sunyi aku masih terngiang-ngiang akan masa SLTPku di MTs NU Raudlotul Mu’alimin Wedung-Demak. Sudah banyak temanku disana, banyak sahabat, orang-orangnya Asyik. Namun waktu mengharuskan kita untuk berpisah, karena sejatinya “Sebuah Pertemuan Pasti ada Perpisahan”.
            Sholat dan bermunajat telah dilakukan oleh santri-santri baru. Selanjutnya, kami pun dipersilahkan untuk melanjutkan tidur bagi yang masih ngantuk dan pengen melanjutkan mimpinya. Namun aku ingin memejamkan mataku ditempat dudukku. Tak begitu lama kemudian waktu subuh pun tiba. Saatnya kami mengambil air wudhu dan memasuki shof untuk sholat sunah qobliah dua rakaat terlebih dahulu, selesai sholat sunah iqomah dikumandangkan dan kami pun berjamaah Sholat Subuh.
            Setelah Sholat Subuh bukan berarti kegiatan kami telah berakhir, namun usai dari Sholat Subuh kami wiridan bersama karena wiridan dan sholat ibarat kopi dan gula yang selalu melekat adanya. Tradisi yang dibudayakan di Pondok Pesantren Balekambang ini salah satunya yaitu wiridan setelah Sholat Fardhu, Setelah wiridan ditutup dengan Do’a oleh Imam Sholatnya. Seluruh santri mengamini do’a yang dipanjatkan berharap kebaikan selalu dating kepada kami semua.
            Ngaji Subuh, salah satu rangkaian kegiatan santri di pagi hari setelah Sholat Subuh. Ngaji ini merupakan ngaji yang special karena yang mengisi ngaji ini adalah Abah Ma’mun Abdullah ZA yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Balekambang Jepara. Dalam Pengjian ini yang dikaji adalah Kitab Kuning saat itu Kitabnya adalah Kitab Durrotun Nasihin. Dalam penyampaiannya yang disampaikan oleh Abah Ma’mun bukan sekedar monoton focus dalam ilmu agama saja namun sering kali di sela-sela menjelaskan dari maknanya di berikan lelucon dengan pengalaman yang terjadi. Sungguh sangat indah ceritanya dan sangat berguna apa yang disampaikannya kepada para santrinya. Semula teman-temanku yang mengantuk mendadak hilang ngantuknya karena penjelasan dan lelucon dalam penyampaiannya.
            Ngaji Kitab Kuning setelah Subuh ini biasanya di awali jam 05.00 - 06.00 WIB. Setelah itu semua santri baru disuruh untuk berkumpul dilapangan dengan pakaian seadanya seusai mengaji, untuk dijelaskan acara selanjutnya dan apa yang perlu disiapkannya. Biasanya yang menyuruh kami berkumpul adalah Pengampu kami yang bernama Ustad Fikri Muhamad Yusuf. Pemuda tampan dan tegas yang berkelahiran Jepara.
            Saat kumpul, kami diinformasikan untuk berganti baju dan senam pagi agar kita tidak mengantuk di rangkaian kegiatan selanjutnya. Dan biasanya kami hanya diberi waktu 10 menit untuk berganti costum untuk mengikuti senam pagi. Selain itu, ada hal yang membuat kami sangat tergesa-gesa saat akan berganti baju karena bunyinya sirine yang suaranya menggetarkan jiwa dan menggerakkan kita supaya terpacu untuk segera memasuki area titik kumpul sesuai instruksi yang diberikan.
            Senam itu dipimpin oleh teman-teman santri baru yang gerakannya aneh-aneh. Hal itu membuat kami senang untuk melakukannya. Senam pagi ini biasanya dilakukan 30 menitan agar badannya terawat dan sehat. Setelah selesainya senam kami diberi kelonggaran waktu untuk ambil peralatan makan dan makan pagi bisa dinikmati dengan cara antri yang sudah menjadi tradisi santri.
            Menikmati makan pagi dengan lauk SATE (Sayur dan Tempe). Memang  sangat terasa berbeda dengan sajian sarapan pagiku dirumah. Memang semuanya berbeda, namun itulah yang menjadi bekal kita ketika kelak kita merantau jauh dari orang tua, harus beralih dari kondisi yang semula semuanya ada dan semuanya dicukupi oleh orang tua. Pondok memang mengajarkan kita untuk mandiri.
            Tak cukup itu, saat makan pun ada aturannya juga jika ada satu butir nasi saja yang tercecer kami diberi sangsi dengan push up sepuluh kali. Jadi kami harus mengira-ngira seberapa kita harus mengambil makan yang sekiranya cukup untuk makan satu kali dan juga kuat untuk menghabiskannya. Disitulah terdapat nilai moral yang mengajarkan kita untuk menghormati jasa petani yang kerja keras untuk dapat menjadikan padi hingga beras dan akhirnya dapat dibeli dan dijadikan nasi sehingga bisa kita nikmati, serta didalam Islam pun juga terdapat suatu aturan yang tidak boleh memubadzirkan barang ataupun makanan.
            Setelah Sarapan kami pun mempersiapkan diri untuk membawa peralatan untuk ibadah Shalat Dhuha dan Peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan Belajar Bahasa Inggris. Kemudian seluruh santri pun keluar dari asrama dengan peralatan yang sudah mereka siapkan dan kami pun lalu mengambil air wudhu dan Sholat Dhuha berjamaah. Usai Sholat Dhuha kami membaca Do’a Setalah Sholat Dhuha bersama dan dilanjutkan membaca Asma’ul Khusna yang di nadai dengan nada-nada yang indah untuk didengar. Dan di Akhiri dengan membaca Surah Al-Waqi’ah beserta Do’anya
            Setelah Sarapan, kami disuruh untuk mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu Belajar Bahasa Inggris yang diajar oleh kakak kelas atau para senior kami. Dalam sistemnya dari beberapa ratus santri dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok ada 2 tutor. Kami merasa asyik dalam pembelajarannya karena penyampaiannya mudah difahami dan diselingi dengan bernyanyi bahas inggris, quiz dan jalan-jalan mengelilingi pondok. Kami merasa fresh dan strong karena belajarnya di Out Door bukan di In Door. Durasi untuk kegiatan belajar ini yaitu dimulai pada pukul 07.15 hingga pukul 09.00 pagi. Setelah itu kami diberi waktu Istirahat.
            Istirahat 60 menit sangat cukup bagiku, karena saat istirahat aku jarang untuk pergi ke kantin karena aku ingin bisa hemat dan dapat mengelola uang saku yang diberikan oleh orang tuaku. Satu catatan untukku “Aku ingin menebus kesalahanku saat aku ikut  Pesantren Kilat di Sarang dulu”. Namun, orang tuaku selalu berpesan kepadaku “untuk belilah sesuatu yang kamu mau namun sewajarnya saja. Jangan berlebihan dan jangan terlalu irit. Percayalah nak, Abah dan Ibumu ini bekerja untuk anak-anaknya. Jadi kamu jangan menyiksa diri ya”.
            Namun tekadku untuk hemat tak dapat diacuhkan dengan pesan orang tuaku itu. Justru aku ingin membuktikan dan membuat mereka bangga karena aku yang pernah mengecewakan kini bisa kembali memutar balikkan hal yang sudah berlalu dikala itu. Uang yang diberikan selalu aku tabung dan jika memang ada kebutuhan yang penting baru aku keluarkan untuk membeli kebutuhan itu. seperti membeli buku, kitab, dan peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk sehari-hari.
            Istirahat 60 menit telah usai, kami pun belajar ilmu Fiqih dengan menggunakan kitab Fatkhul Qorrib. Kami pun disuruh untuk memaknai dengan arab pegon dan dijelaskan mengenai hukum-hukum Fiqih yang bersangkutan di kehidupan kita dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. kebetulan saat itu Ustad yang mengajarku adalah Ustad Kharor. Beliau sangat alim dan beliau merupakan alumnus Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang. Dalam penguasaan materi dan cara penyampaiannya memang saya akui beliau sangat mantap. Tidak ada satupun santri yang tertidur saat Ustad Kharor menyampaikan materinya.
            Belajar ilmu Fiqih diakhiri ketika telah masuk waktunya Sholat. Ustad Kharor pun mengarihi Pembelajarannya dengan membaca Kafarotul Majlis bersama-sama. Lalu kami kembali keasrama untuk mengembalikan semua alat yang berkenaan dengan kegiatan belajar selanjutnya kami Sholat Dzuhur berjamaah. Setelah berjamaah kami tidak boleh keluar dari barisan harus ikut wiridan serta mengamini do’a yang dipimpin oleh imam.
            Sehabis menjalankan kewajiban Sholat Dzuhur, kami dipersilahkan untuk makan siang sesuai ketentuan tadi yaitu tidak boleh ada nasi yang tercecer dan wajib habis serta tidak boleh menambah makan lagi harus sekali. Selesai makan kegiatan selanjutnya yaitu LBB (Latihan Baris Berbaris). LBB di siang hari sangat berat karena harus menanggung panasnya terik matahari di waktu siang. Namun, kita wajib mengikutinya karena ada nilai moral yang tertanam di dalamnya yaitu LBB melatih kita akan kedisiplinan. Harapan dari Penanggung Jawab Kegiatan PESABAR yaitu dengan adanya semua rangkaian ini dapat mencetak santri yang disiplin akan waktu dan dapat berperilaku yang baik kepada siapa saja.
            Penanggung Jawab Pesabar yang biasa disebut Kang Power pernah menyampaikan “disini kamu itu diproses PESABAR bukanlah rangkaian yang menyiksamu namun PESABAR inilah Proses yang akan menjadikan dampak baik untuk kalian. Kalian itu ibarat Genting, Kamu Tahu kan posisi Genting itu dimana ? nah, itu yang saya harapkan kepada kalian semua. Genting bisa berada di posisi atas karena melalui banyak proses. Dibuatnya dari tanah liat lalu di pres dengan cetakkan, kemudian di panaskan, dan setelah jadi Genting itu ditaruh di atas. Dan saya ingin semua santri yang ada disini, saya ingin kalian menjadi orang yang mulia dan berada di posisi yang baik yaitu posisi yang berada di atas.”
            Kegiatan LBB dimulai pukul 13.00 siang hingga pukul 14.30 siang. Memang sangat panas namun itulah yang dinamakan berproses. Banyak rintangan yang harus kita patahkan ataupun kita jinakkan untuk menjadi orang yang benar-benar orang, menjadi manusia yang manusia. Kegiatan LBB dibina oleh kakak kelas kami, dan juga kegiatan LBB ini untuk mempersiapkan Upacara Perayaan Kemerdekan 17 Agustus.


            Setelah kegiatan LBB, kami pun istirahat sejenak.  Haus sangat kurasa, karena mulai dari matahari di atas tepat, hingga mau masuknya waktu ashar kami semua berada di bawah panasnya terik mata hari tanpa pelindung kepala. Seusai kegiatan LBB badan terasa lemas namun aku harus memaksakan diri untuk menuju keran air minum untuk menyegarkan tenggorokan yang sangat kering ini. Menuju karena dahaga, Melangkah dengan badan yang lelah. Sesampainya di tempat air minum tak segan-segan aku memutarkan keran dan kuputar semeksimalnya dan kutadahkan gelas dibawahnya. Lalu kuminum dengan cepat namun tak lupa ku tetap membaca bismillah, “karena apapun yang akan kamu makan dan kamu minum jangan lupa kamu membaca bismillah dan do’a.” kata orang tuaku yang masih aku ingat hingga saat ini.
            Akupun kembali ke asrama setelah menghilangkan rasa dahaga. Lalu bersantai-satai sebentar dan membersihkan diri untuk menunaikan ibadah Sholat Ashar berjamaah. Seusai salam dari Sholat tidak ada satupun yang berdiri kecuali yang masih meneruskan sholatnya karena telat dalam berjamaah. Semuanya membaca wiridan bersama dan diakhiri dengan do’a. Setelah itu kami mengambil Al-Qur’an dan menuju ke ustad yg mengampu ngajinya masing-masing. Baris dan antri untuk maju menuju ustad pengampunya, namun sebelum sampai didepan hadapan ustad kebanyakan mereka menyibukkan diri dengan darus al-qur’an yang akan disimak oleh ustad pengampu ngajinya.
            Selesai ngaji sore, santri yang dapat jatah piket membersihkan lingkungan sesuai dengan tugasnya masing-masing. Biasanya diwaktu sore setelah ngaji santri diberi waktu luang untuk bermain sepak bola, voley, beli jajanan di sekitar pondok, atau bersih-bersih diri dan lain sebagainya. Namun untuk yang piket wajib menjalankan tugasnya. Piket harian biasanya dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Bagi yang piket pada hari tersebut dia wajib menjalankan piket diwaktu pagi setelah ngaji subuh dan piket sore diwaktu seusai ngaji al-qur’an.
            Ketika Jam sudah menunjukkan Pukul 17.00 Wib pengampu asrama akan menyiarkan “Jam sudah menunjukkan jam 17.00 Wib bagi semua santri yang masih di luar asrama segera memasuk ke dalam asrama,  bagi yang masih bermain segera menghentikan permainannya. Semua santri segera bersih diri dan mempersiapkan sholat maghrib dan jangan lupa membawa kitab Ta’limul Muta’alim dan membawa Rotibul Khadad. bagi santri yang mendapatkan jatah piket segera untuk menjalankan piketnya.”
            Aku pun bergegas untuk berangkat ke Masjid dengan membawa peralatan sholat, Rotibul Khadad, dan Kitab Kuning yang akan dikaji yaitu Kitab Ta’limul Muta’alim. Sembari menunggu datangnya waktu Maghrib aku pun menghafalkan hafalanku agar tidak tersendat dan tidak menumpuk hafalan-hafalan yang harus dihafalkan.


            Setelah datangnya waktu Maghrib semua santri sudah berkumpul di Masjid. Adzan pun berkumandang dan terdengar merdu dengan logat-logat Arab serta cengkok-cengkoknya yang menambahkan nuansa keindahan Adzan Maghrib. Saat Adzan semua santri terdiam dan mendengarkan juga menjawabi adzan, setelah adzan selesai, kami semua membalikkan tangan dan membaca do’a setelah adzan. Lalu semua santri dihimbau untuk sholat rowatib terlebih dahulu setelah itu pujian bersama-sama. Pujian yang sangat khas di pondok yaitu pujian Sayyidul Istighfar.
            ”Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta”.
            Artinya : ”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.
            Setelah itu kami berjamaah Sholat Maghrib bersama dan diimami oleh Roisul Maskan Asrama SMK yaitu Bapak Miftahudin S.Ag, Mm., setelah sholat maghrib semuanya membaca Rotibul Khadad dan di pimpin oleh santri yang ditunjuk oleh Pak Miftah. Lalu Rotibul Khadad  dibaca bersama dan tidak ada yang bubar dari barisan sebelum Rotibul Khadad ini selesai dibaca bersama-sama.
            Ketika sudah selesai pembacaan Rotibul Khadad waktunya sangat mepet dengan masuknya waktu Sholat Isya’. santri yang wudhunya batal dipersilahkan untuk mengambil air wudhu lagi. Untuk yang wudhunya tidak batal bisa tetap menempati barisannya.
            Tiba diwaktunya Sholat Isya’, Adzan berkumandang dan tak lama kemudian Iqomah pun dikumandangkan. Sholat empat rokaat dilakukan bersama-sama. Setelah salam kami semua tak luput dengan yang namanya wiridan dan do’a, setelahnya kami membuka kitab Ta’limul Muta’alim dan ngaji kitab kuning ini yang di isi oleh Pak Miftah, pembawaan dan penguasaan kitab yang sangat kental dan sangat berwawasan. Membuat aku selalu ingin berada di dekat hadapan Pak Miftah, agar dapat lebih dekat dan semoga dapat meresap atas ilmu yang disampaikan, mendapat barokahnya serta dapat mengamalkannya. Karena sejatinya ilmu yang tak diamalkan akan sia-sia.

Rutinitas di Masa PESABARKU…

Komentar